//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Tambang Emas Gunung Botak, Pulau Buru

Selasa, 13 Mei 2014 08:10:04
photo: nawafcell indramayu / panoramio

Sawah luas hijau menghampar. Padi menguning bagaikan emas. Itulah lembah Waeapo. Bagaimana kalau mata sedikit dialihkan memandang ke atas, ke perbukitan Waeapo? Syair klasik tadi seolah berganti jadi lagu 'Tenda Biru'-nya Dessy Ratnasari. Sejauh mata memandang, dan sebagaimana juga terekam di citra satelit, ribuan tenda biru luas menghampar. Dan selama jam masih berputar, butiran emas sungguhan didulang tiada henti. Yang satu tidak menghilangkan yang lain, kedua penampakan itu sekarang membentang bersama di Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru.

Tenda biru yang berserakan bukanlah tenda resepsi pernikahan ala Dessy Ratnasari. Dia cuma terpal plastik warna biru seperti yang biasa dipakai pedagang kaki lima atau tenda darurat para pengungsi. Terpal plastik itu menjadi tenda dan penutup bagi lubang-lubang galian emas yang sedang digarap para penambang emas ilegal, alias para pelaku penambangan emas tanpa izin (PETI). Disebut ilegal karena resminya Pemerintah Kabupaten Buru sudah memerintahkan penutupan tambang-tambang emas milik rakyat yang berada di kawasan Gunung Botak dan sekitarnya itu.

Demam berburu emas memang sedang dan masih terus melanda Pulau Buru: negeri yang didaulat jadi lumbung pangan Provinsi Maluku dan menjadikan Lembah Waeapo sebagai sentra produksi berasnya. Pemkab Buru mulai mencatat fenomena itu di websitenya pada Desemberr 2011. Dikisahkan: sudah lebh dari sebulan terakhir ratusan warga sibuk mendulang emas dengan menggunakan kuali dan peralatan seadanya. Sehari mereka bisa menjual emas yang diperoleh seharga Rp 300 ribu. Kalau mau berdiam lebih lama di bawah tenda biru dan mengumpulkan lebih banyak emas, mereka bisa mengantongi uang hingga puluhan juta rupiah.

Emas pertama kali diketemukan, kata paparan Pemkab Buru tadi, di daerah yang disebut Gunung Warmoly, gunung kecil di kawasan perbukitan Desa Wamsait. Ceritanya, pada suatu malam, sang penemu pertama yang bernama Susyono, mendapat mimpi yang menunjukkan kalau di gunung itu terdapat emas. Esok harinya ia pun menuruti petunjuk itu, menggali di lokasi yang dibisikkan dalam mimpi, dan benar-benar menemukan emas. Senang dengan temuan itu, setiap hari ia bolak-balik ke sana. Lama-kelamaan para tetangga menaruh curiga dan akhirnya membuntuti Susyono. Melihat apa yang ditemukan Susyono, para tetangga itu pun ikutan berburu emas. Lantas, kabar adanya emas ini dengan cepat menyebar ke segenap penjuru.

Buntutnya, mulai awal 2012, ribuan pemburu emas menyerbu Pulau Buru. Mereka berdatangan dari luar kabupaten dan bahkan luar provinsi. Kawasan Gunung Botak pun, yang mungkin karena namanya yang simpel, lantas jadi area yang paling populer. Pada Mei 2012, saat melakukan sosialisasi pembentukan koperasi tambang emas dalam rangka melegalkan tambang rakyat itu, Pemkab Buru bilang bahwa jumlah penambang liar sudah mencapai 14.000 orang. Adapun area tambangnya sudah melebar hingga mencapai 125 hektar.

Seiring berjalannya waktu, berbagai masalah mulai bermunculan. Awal Agustus 2012 terjadi bentrokan berdarah yang merenggut jiwa karena perebutan lahan tambang. Penyakit HIV/AIDS juga mulai terdeteksi di lingkungan Gunung Botak. Juga sejumlah galian beberapa kali longsor dan menewaskan para penambang. 'Kutukan emas', kata Prof Rhenald Kasali. Buntutnya, pada 5 Desember 2012, Gubernur Maluku memerintahkan penutupan tambang. Enam bulan kemudian, 5 Mei 2013, setelah mendapatan restu dari Menteri ESDM untuk menerbitkan izin WPR (wilayah penambangan rakyat), Bupati Ramly Umasugi kembali memerintahkan penutupan tambang.

Semua larangan dan perintah itu pada akhirnya dianggap angin lalu. Para penambang emas, seperti yang Ahad lalu diberitakan Kabar Timur, masih menjalankan kegiatannya. Tenda biru masih bertebaran. Untuk menghindari razia yang sering dilakukan pada siang hari, para penambang menggali lubang tambang dan mendulang emas di malam hari.

Peta & Citra Satelit

Tenda Biru di Gunung Botak

Google sudah punya citra satelit yang memotret kawasan Gunung Botak. Hanya saja, citra satelitnya jadul sekali. Tebaran tenda biru belum kelihatan. Yang sudah punya citra satelit yang memotret tambang emas penuh tenda biru adalah Here.com, website peta digital kepunyaan pemilik lama Nokia. Kebetulan, Here.com tidak ikut dijual ke Microsoft ketika beberapa waktu raja software OS ini membeli Nokia. Kebetulan juga, dan lucunya, pemilik lama Nokia dulu membeli Here.com dari Microsoft. Ketika itu, Here.com masih bernama Microsoft Virtual Earth. Sampai sekarang, Here.com menjadi peta yang digunakan Bing Maps, Yahoo Maps, dan juga Facebook.

Silakan klik thumbnail di atas untuk melihat tenda biru di Gunung Botak, atau ikuti link berikut untuk mengeksplorasi lebih lanjut: Here.com - Gunung Botak.

Kalau mau, arungi juga citra satelit Google di atas. Bila bergeser sedikit ke arah barat dan barat laut (ke sebelah kiri dan kiri atas), akan dijumpai beberapa lokasi pemukiman transmigrasi di Desa Wamsait dan desa-desa tetangganya. Juga, tentunya, terpampang Lembah Waeapo yang jadi lumbung pangan Provinsi Maluku.

Gunung Botak yang Seksi

Gunung Botak begitu seksi sampai bisa menarik ribuan orang. Sekitar 20.000 orang, kata Bupati Ramly Umasugi, menjelang penutupan tambang Gunung Botak pada Mei 2013. Lantas, seberapa menggiurkannya kah tambang emas rakyat ini? Asperi (Asosiasi Pertambangan Rakyat Indonesia), yang pada Oktober 2012 mulai membuka kantor cabang di Namlea, ibukota Kabupaten Buru, punya hitungannya.

Menurut Asperi, sejak ditemukan emas setahun sebelumnya hingga Oktober 2012 itu, perputaran uang di tambang emas diperkirakan sudah mencapai Rp 365 triliun. Luar biasa. Memangnya berapa banyak emas yang diangkat dari Gunung Botak? Ketua Asperi Andi Ridwan bilang, per harinya Gunung Botak menghasilkan 2,5 ton emas. Harga 1 kilogram emas Rp 425 juta. Jadi kalau setahun, nilainya ya triliunan tadi itu.

Percaya atau tidak dengan kalkulasi Asperi, yang jelas kegiatan berburu emas masih terus berlangsung di Gunung Botak. Mau ikut? Ada tarifnya. Dewan Adat setempat menetapkan 'uang masuk' sebesar Rp 525.000 per orang atau per penambang. Lalu ada setiap bulannya ada biaya 'buat lubang' sebesar Rp 1 juta per orang. Setelah itu, barulah emas yang diperoleh di-bagi-hasil dengan pemilik tanah yang lahannya digali lubang tambang. Seperti apa sih lubangnya? Lubangnya tak beda dengan lubang sumur biasa. Lebar atau diameternya hanya sekitar 1 meter. Sedangkan kedalaman sumur bergantung kelompok yang melakukan kegiatan eksploitasi. Biasanya antara 10 sampai 30 meter.

Keberadaan 'dewan adat' yang memungut iuran tadi pernah dipersoalkan oleh pihak yang lebih tinggi: Pemerintah Negeri Kailey. Agustus 2013, pemimpin atau raja Kaiely, M Fuad Wael, menyatakan uang masuk atau uang tiket yang dipungut di tambang Lea Bumi atau tambang Gunung Botak itu sebagai hal yang ilegal atau pungutan liar. Pungutan itu juga dilakukan tanpa seizin dirinya sebagai 'ketua persekutuan hukum adat'. Karenanya sang raja pun lantas menyurati gubernur, bupati, kapolda, pangdam, dan petinggi muspida lainnya agar pelaku pengutan liar itu ditindak. Ia juga menjelaskan, sejak tak diakui eksistensinya, 'dewan adat' itu masih terus menerbitkan tiket dengan mengatasnamakan 'Panitia Tunas Bangsa'.