Satu Indonesia, Berjuta-juta Places-nya
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Jangkrik Complex Project: Deepwater Horizon ala Indonesia

Senin, 03 April 2017 19:52:46
photo: fpu jangkrik di galangan hyundai, ulsan / eni

Lumayan laku di bioskop Indonesia, ''Deepwater Horizon'' sempat meramaikan bursa Oscar 2017, untuk kategori Sound Editing dan Visual Effect. Tapi apa mau dikata, film tentang meledaknya anjungan pengeboran minyak laut dalam Deepwater Horizon pada April 2010 itu akhirnya tak menyabet satu piala pun. Bagaimana dengan anjungan pengeboran laut dalam (deepwater) di Indonesia? Memangnya ada? Ada. Baru ada satu; sudah memasuki tahap final pengeboran; dan tak pakai meledak. Tapi, bukan mengebor minyak, melainkan gas alam. Dan Menteri ESDM Ignatius Jonan dua pekan lalu baru saja meresmikan kapal Floating Processing Unit (FPU) Jangkrik, yang kelak bakal mengolah gas alam yang disemburkannya.

Jangkrik. Namanya memang simpel. Nama ini sejalan dengan nama 2 lapangan gas laut dalam yang jadi sumber gasnya: Lapangan Jangkrik dan Lapangan Jangkrik North East (Timur Laut). Entah dari mana nama Jangkrik itu muncul, yang pasti kedua lapangan gas itu merupakan bagian dari Wilayah Kerja (WK) Muara Bakau, yang hak kelolanya di pegang Eni Muara Bakau Bv, anak perusahaan Eni S.p.A., BUMN migas pemerintah Italia. Kenal ENI? Kalau tak kenal, mungkin Anda kenal aneka produk ritelnya yang punya logo sama: singa hitam berlatar kuning: AGIP. Oleh sang pengelola, alias kontrakor kontrak kerja sama (KKKS), proyek galian gas di 2 lapangan gas ini dilabeli dengan nama Jangkrik Complex Project, dan terkadang disebut Jangkrik Complex Development.

Deepwater Horion dipakai menggali minyak di Teluk Mexico, dekat Houston, negara bagian Texas. Setelah meledak, anjungan semi-submersible atau setengah mengapung (tidak seratus persen menginjak dasar laut) tenggelam, sementara minyak terus mengalir dan menjadi bencana tumpahan minyak terbesar sepanjang sejarah perminyakan AS. Proyek Jangkrik berada di Selat Makassar, selat yang memisahkan Pulau Kalimantan dengan Pulau Sulawesi. Lokasi penggaliannya sendiri masuk wilayah Kalimantan Timur. Yang dipakai mengebor lapangan gas Jangkrik juga tergolong anjungan semi-submersible. Scarabeo 7 namanya. Anjungan ini tergolong sebagai kapal. Yang jadi pemiliknya adalah Saipem S.p.A, yang juga perusahaan Italia. Kapal pengeboran laut dalam ini dibuat tahun 1999 dan dek utamanya punya luasan 64,6 x 122,7 meter.

Eni mengontrak Scarabeo 7 dari Saipem sejak Juli 2014, hingga Februari 2018, untuk mengebor minimal 12 sumur. Meski begitu sejak awal sudah diyakini pekerjaan pengeboran sudah bisa selesai pada kuartal pertama 2017. Saat ini, menurut data Marine Traffic, Scarabeo 7 masih berada di perairan Selat Makassar (koordinat lokasinya seperti telihat di peta bawah). Ingin tahu seperti apa 'bahagia'-nya suasana kerja di kapal Scarabeo 7? Simak saja videonya di Youtube: Scarabeo 7 Indonesia (video 3 Agustus 2015), yang jauh dari seramnya suasana di anjungan Deepwater Horizon. Atau bisa juga menyimak Scarabeo 7 lewat postingan awak Indonesia-nya di Instagram.

Kalau Scarabeo 7 milik Saipem pergi, kapal Saipem lainnya bakal menggantikan. Lho kok? Kapal yang dimaksud tak lain FPU Jangkrik, milik Eni Muara Bakau Bv, yang kebetulan dibuat oleh Saipem Karimuin Yard, galangan kapal seluas 130 hektar milik Saipem S.p.A, via PT Saipem Indonesia, yang berada di Tanjung Balai Karimun, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Di galangan kapal inilah dua pekan lalu, 21 Maret 2017, 'Nyonya Ratnawati Jonan' meresmikan 'penamaan' FPU Jangkrik. Konon, menurut tradisi, penamaan kapal mesti dilakukan kaum perempuan, dan karenanya isteri Menteri ESDM Ignatius Jonan pun mesti hadir dan meresmikannya. Menurut rencana, pada 24 Maret 2017, FPU Jangkrik akan ditarik dari Tanjung Balai Karimun menuju Selat Makassar, dan akan tiba dalam waktu 12 hari. Setelah dibereskan segalnya, FPU Jangkrik dijadwalkan beroperasi pada Mei 2017, dan Presiden Jokowi akan jadi orang yang meresmikannya.

Peta & Citra Satelit

Indonesia Deepwater Development

Indonesia layak bangga dengan kehadiran FPU Jangkrik. Kata Jonan, FPU Jangkrik, yang deck utamanya punya luasan 46x192 meter, merupakan FPU terbesar yang pernah dibangun dan dirakit di Indonesia. Tapi bukan cuma karena itu. Yang lebih heboh adalah, lapangan gas Jangkrik dan Jangkrit North East, yang berada di tengah laut sekitar 100 kilometer dari Balikpapan, menjadi lapangan gas laut dalam pertama yang selesai proses penggaliannya dan siap produksi. Totalnya ada 3 proyek gas laut dalam yang digagas, dipasarkan, dan ditenderkan pemerintah pada 2012. Eni memenangkan tender Lapangan Jangkrik pada Februari 2012. Dua lainnya adalah Indonesia Deepwater Development (IDD) dan Lapangan Abadi, Blok Masela. IDD digarap Chevron di 4 wilayah kerja (WK): Ganal, Rapak, Makassar Strait, dan Muara Bakau. Area gas ini bertetanggaan dengan lapangan Jangkrik, yang juga masuk WK Muara Bakau. Sedangan proyek gas Masela berada di Laut Arafura dan menjadi garapan Inpex Masela Ltd.

Yang juga membuat Jangkrik lebih heboh adalah proyek ini bisa dikerjakan 12 bulan lebih cepat 12 bulan dari rencana awal. Dari sisi uang, proyek pengembangan lapangan Jangkir dan Jangkrik North East yang nilainya 4,5 miliar dolar (Rp 52 triliun lebih), bisa diselesaikan hanya dengan biaya 4,3 miliar dolar, alias menghemat 300 juta dolar. ''Itu besar sekali.'' bilang Jonan, saat meresmikan FPU Jangkrik. Hebat memang. Tapi ini seolah mengingatkan kita pada orang-orang BP yang demi menghemat dana akhirnya membuat Deepwater Horizon meledak dan tenggelam. Semoga nasibnya tak sama.

Jangkrik Complex Project atau Jangkrik Complex Development sendiri bukan melulu urusan menggali dengan Scarabeo 7 dan mengolah gas dengan FPU Jangkrik. Proyek ini juga mencakup pengaliran gas lewat bawah laut ke fasilitas pengolahan di darat. Pada intinya, ada 3 proyek EPCI (engineering, procurement, construction, installation) yang dihadirkan untuk mewujudkannya, yang dimulai secara serentak. Proyek EPCI-1 berupa pembuatan dan instalasi FPU, yang dimenangkan konsorsium PT Saipem Indonesia, PT Tripatra Engineers and Constructors, PT Chiyoda International Indonesia, dan Hyundai Heavy Industries Co. Ltd. Proyek EPCI-2 berupa pembangunan fasilitas penerima di darat di kawasan Handil, jaringan pipa (195 kilometer), dan peralatan pendukung lainnya, yang tendernya dimenangkan PT Technip Indonesia dan Technip Geoproduction Sdn. Bhd. EPCI-3 berupa pembangunan sistem produksi bawah laut, sistem pengendalian, dan peralatan pendukung, yang tendernya dimenangkan oleh PT FMC Santana Petroleum Equipment Indonesia (sekarang perusahaan ini juga menjadi bagian dari Technip).

Dari Ulsan ke Tanjung Balai Karimun

FPU Jangkrik diresmikan penamaannya di galangan kapal Saipem Karimun Yard di Tanjung Balai Karimun. Tapi bukan berarti kapal raksasa itu dibuat sepenuhnya di Indonesia. Saipem Karimun Yard hanya memproduksi bagian atas kapal (top side). Sedangkan bagian lambung kapal atau badan kapal (hull and living quarter) dibuat Hyundai Heavy Industries Ltd di galangan kapalnya di Ulsan, Korea Selatan. Untuk lebih nyamannya, silakan simak video perjalanan proyek Jangkrik yang dihadirkan Eni di channel Youtube-nya: Jangkrik's Diary - Jangkrik Complex Project. Isinya mulai dari penggelaran pipa gas bawah laut (April 2016), instalasi pipa gas darat dan pembanguan fasilitas penerima darat di Handil (Juli 2016), pembuatan hull and living quarter di Ulsan (Desember 2015), dry dock di galangan Ulsan mulai dialiri air untuk mengapungkan FPU Jangkrik pada Juni 2016, FPU diberangkatkan ke dan sampai di galangan kapal Saipem Karimun Yard di Tanjung Balai Karimun pada Juli 2016, dan top side pun dipasangkan. Selepas cuplikan video itu, Scarabeo 7 pun diperlihatkan sedang melakukan clean-up di tengah Selat Makassar, tempat dia mengebor gas hingga ke dalam 450 meter (Scarabeo 7 sendiri bisa mengebor hingga ke dalaman 1.500 meter).

FPU Jangkrik dirancang untuk bisa mengolah hingga 450 juta standar kaki kubik gas per hari (mmscfd). Hal ini sesuai dengan rencana yang menyebut kedua lapangan gas Jangkrik bisa menghasila 400 mmscfd di masa awal, dan puncaknya bisa mencapai 450 mmscfd, atau sama dengan 7 persen dari total produksi gas Indonesia. Menteri Jonan berharap FPU Jangkrik kelak juga bisa ditingkatkan kapasitas olahnya menjadi 800 mmscfd agar, kalau Chevron bisa menuntaskan proyek Indonesia Deepwater Development (IDD), gasnya juga bisa diolah FPU Jangkrik. Adapun yang kelak akan membeli gas keluargan FPU Jangkrik tak lain adalah Pertamina, yang pada 25 Juni 2015 sudah meneken perjanjian membeli gas sebanyak 1,4 juta ton per tahun, selama 7 tahun mulai 2017.

Kelak, selain Eni (yang memegang 55 persen saham hak pengelolaan Lapangan Jangkrik), yang juga bakal menikmati adalah Engie E&P International (d/h Gaz De France Suez, 33,334 persen), dan PT Saka Energi Indonesia, anak perusahaan PT Gas Negara Tbk (persero), yang punya saham 11,666 persen, yang dibeli dari GDF Suez pada April 2015 senilai 70 juta dolar.

Pipa Gas Jangkrik di Daratan Handil

Tak cuma di laut dalam, Jangkrik Complex Project juga mencakup pembangunan jalur pipa gas di darat. Termasuk di antaranya pipa gas sepanjang 8 km yang digelar di wilayah Kelurahan Handil, Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara, di kawasan pinggiran barat Selat Makassar. Instalasi pipa gas itu dikabarkan melibatkan tenaga kerja sebanyak 230 orang, yang 100 di antaranya tenaga kerja lokal asal Kutai Kartanegara.

Goole Street View sudah jalan-jalan ke Kelurahan Handil dan sudah merekam foto kawasan Jangkrik Complex Project. Silakan simak foto di atas atau langsung lihat di Google Maps. Lokasinya bisa dibaca di pentol merah pada peta di atas, di bagian kiri atas.

BTW, tak sempat menonton Deepwater Horizon di jaringan bioskop Cinema 21? Mampir saja ke bioskop online Indo 21.