//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!
//EMPTY DIV!!

Tahu Mirasa, Conggeang, Kabupaten Sumedang

Senin, 19 Mei 2014 06:41:03
photo: centhini/indoplaces

Bosan dengan tahu Sumedang yang ada di pusat kota Sumedang, yang mungkin sudah dianggap sebagai 'obyek wisata' ketimbang warung tahu Sumedang sungguhan? Kalau ya, silakan mampir ke Tahu Mirasa, warung tahu Sumedang yang ada di Kecamatan Conggeang, kawasan pelosok di Utara Sumedang, sekitar 16 kilometer dari pusat kota. Tapi kalau memang tidak mau repot main ke pelosok, ya datang saja ke kembarannya, warung tahu Sinsa 124, yang ada di Jalan Mayor Abdul Rahman, di pusat kota Sumedang.

Warung Tahu Mirasa awalnya memang hadir di Desa Conggeang Kulon, Kecamatan Conggeang, pada awal 1980-an. Lokasinya berada di sisi kiri gerbang masuk Pasar Conggeang, yang kebetulan berada di jalan yang punya nama yang sama dengan yang ada di kota: Jalan Mayor Abdul Rahman. Gerai tahu milik CV Tahu Mirasa ini mulai ikut meramaikan jagad tahu di pusat koa Sumedang pada awal 1990-an. Semula, nama yang dipakai masih sama: Tahu Mirasa. Namun entah bagaimana ceritanya, namanya diganti menjadi Sindangsari 124. Nama ini lantas disingkat menjadi Sinsa 124. Selain menjual tahu khas Sumedang, sebagai restoran, Sinsa 124 juga menjual mie bakso dan somay.

Tahu Mirasa yang di Conggeang, menurut catatan mahasiswa KKN Unpad 2012, memproduksi dan menjual antara 8.250 hingga 10.000 potong tahu per hari. Proses produksi tahu dimulai dari jam 00.00 hingga jam 12.00 siang. Sejak dini hari hingga usai masa produksi itu, biasanya bisa dilakukan 15-20 kali proses penggilingan kedelai hingga menjadi tahu. Satu kali 'gilingan' bisa menghasilkan 550 potong tahu. Di pagi hari, sebagian tahu didistribusikan ke pengecer dan sebagian lagi disiapkan untuk digoreng dan dijual langsung di pabrik yang juga sekaligus jadi gerai Tahu Mirasa. Upah bagi tukang goreng terbilang murah, hanya Rp 5.000 per gilingan. Toko tahu ini buka hingga jam 5 sore.

Peta & Citra Satelit

Tahu Conggeang

CV Tahu Mirasa
Jl. Mayor Abdul Rahman No.343
Desa Conggeang Kulon
Kecamatan Conggeang
Kabuapten Sumedang
Jawa Barat

Tel: 0261-202112

Website: http://sinsa124.blogspot.com

Oplosan Kedelai Impor dan Lokal

Saat krisis kedelai ramai dibicarakan pada awal 2012, pemilik tahu Mirasa dan Sindangsari, Hernawan Safari, sempat berbincang dengan Kompas soal bisnis tahunya. Ia bercerita soal mahalnya kedelai lokal yang harganya mencapai Rp 7.500 per kilogram, yang jauh lebih tinggi dari kedelai impor yang berkisar antara Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per kilogram. Karenanya, sebagaimana pengusaha tahu lain, ia mencampur kedelai impor dan lokal dengan perbanginan 1:1. Per hari ia membutuhkan 300 kg kedelai untuk memproduksi 13.000 hingga 15.000 potong tahu.

Kiat Bisnis Tahu

Menyiasati harga kedelai yang melambung, pengusaha tahu Sumedang punya banyak kiat. Selain mengoplos kedelai impor dengan kedelai lokal, tak sedikit pengusaha tahu yang menciutkan ukuran tahunya. Dalam perbicangan dengan Kompas tadi, misalnya, pengusaha tahu yang lain bilang kalau ukuran tahu diperkecil dari 3x3 cm menjadi 2,5x2,5 centimeter. Jadi, kalau biasanya satu ancak (loyang) dipotong menjadi 121 tahu, ketika ukurannya diciutkan bisa menghasilkan 141 potong tahu. Ketika itu harga tahu antara Rp 400 sampai Rp 500 per potong.

Sekarang, harga tahu Sumedang di Sumedang sudah naik sedikit. Tapi paling tinggi hanya Rp 600 rupiah per potong. Untuk menemaninya, biasanya diberi cabe hijau mentah atau sambel goreng cabe merah secara gratis. Juga tersedia saos tamat yang diberikan secara cuma-cuma. Tapi kalau ingin spesial, tersedia sambal tauco (dari kedelai) yang biasanya dijual terpisah seharga Rp 2.500 per kantong plastik kecil.

Tahu Sumedang, Kedelai Sumedang

Tahu Sumedang menjadi khas bukan hanya karena proses produksinya dan sosok final sang tahu yang kopong di bagian dalam. Tapi juga karena kedelai yang dipakai juga kedelai khas Sumedang (meskipun akhirnya dioplos juga dengan kedelai impor). Menurut catatan BPS Sumedang dan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sumedang, pada 2010 lahan tanaman kedelai di Sumedang mencapai 5.051 hektar, dari total lahan tanaman palawija yang 34.518 hektar. Sentra kedelainya ada di Kecamatan Conggeang, Kecamatan Paseh, dan Kecamatan Jatigede. Kedelai yang dihasilkan berkisar antara 6.000 hingga 6.500 ton per tahun. Jumlah produksi itu hanya mencukupi 40 persen kebutuhan pengusaha tahu. Walhasil, kekurangannya selama ini dipasok dari Garut, Kuningan, Majalengka, serta impor.