Indonesia meets Google Places and Facebook Places
Polda Bali, Kota Denpasar, Bali
Jumat, 11 Agustus 2017 00:27:56
photo: mapolda bali / google street view
Seorang anggota Brimob Polda Bali dianiaya, Selasa lalu, 8 Agustus 2017. Senjata bawaannya, senapan AK-101, dirampas. Pelakunya masih dicari. Teroris? ''Tidak ada indikasi teroris,'' tegas Kapolda Bali Irjen Pol Petrus Reinhard Golose. Percaya? Percaya saja. Soalnya, perkara teroris dan terorisme, Kapolda Bali terbilang jagonya. Beliaulah, yang bersama Tito Karnavian, sekarang Kapolri, dan Idham Azis, yang Juli lalu jadi Kapolda Metro Jaya, mendapat penghargaan karena berhasil melumpuhkan Dr Azhari, teroris yang jadi otak Bom Bali I dan Bom Bali II pada November 2005.

Sebenarnya masih ada seorang lagi yang waktu itu juga mendapat penghargaan bersama ketiganya, dari Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Yakni, Rycko Amelza Dahniel. Hanya saja, sejak 2 Juni 2017, Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyudahi jabatannya sebagai Kapolda Sumatera Utara dan menempatkannya sebagai Gubernur Akademi Kepolisian. Dengan kata lain, dari '4 sekawan' tadi hanya tinggal 3 saja yang masih menyandang status sebagai 'Kepala': Tito Karnavian menjadi Kapolri sejak 13 Juli 2016; Idham Azis menjabat Kapolda Metro Jaya mulai 20 Juli 2017, dan Petrus Reinhard Golose menjadi Kapolda Bali sejak 12 Desember 2016.

Petrus Reinhard Golose, saat menumpas Dr Azahari, menjabat sebagai Wakil Kepala Densus 88 Polda Metro Jaya. Sedangkan sebelum menjadi Kapolda Bali, pria asal Manado ini sejak 2015 menjabat sebagai Deputi Bidang Kerja Sama Internasional di BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), setelah sejak 2010 menjadi Direktur Penindakan BNPT. Yang juga patut disimak adalah jabatannya sebelum menjadi Waka Densus 88, yakni Kasat IV/Cyber Crime di Ditreskrimsus Polda Metro Jaya. Perkara cyber crime ini yang mengantarnya meraih gelar Doktor Ilmu Kepolisian di Universitas Indonesia pada 2008. Disertasinya berjudul ''Manajemen Penyidikan Tindak Pidana Hacking: Studi Kasus: Penyidikan Tindak Pidana HackingWebsite Partai Golkar Oleh Unit V IT &CybercrimeBareskrim Polri.'' Kepakaran di bidang terorisme dan cyber crime itu ia wujudkan pula dengan menulis buku, antara lain, ''Deradikalisme Terorisme'' (2008) dan ''Invasi Terorisme ke Cyberspace'' (2015).

Boleh jadi berkat latar belakang itu, dan juga karena jabatan barunya sebagai Kapolda Bali, pada 17 Februari 2017 lalu ia membentuk Satgas CTOC (Counter Transnational and Organized Crime, alias Penangkal Kejahatan Teorganisir dan Lintas-Negara). Nama CTOC ini mirip dengan nama pasukan khusus CTOC Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand, yang November 2016 lalu menggelar latihan bersama Pasukan Operasi Khusus TNI. Di AB Kerajaan Thailand, CTOC bermakna Counter Terrorism Operations Center. Namanya mirip, pekerjaan keduanya kurang lebih juga mirip. Walaupun saat itu sempat disebut kalau Satgas COTC hanya bertugas 'menangkal WNI bermasalah yang dideportasi'. Kebetulan kehadiran Satgas CTOC diumumkan setelah Polda Bali mengamankan Abdul Zakir, pria asal Lombok, yang dideportasi pemerintah Jepang karena diduga terlibat jaringan ISIS, dan memilih ---seperti banyak terjadi sebelum dan sesudahnya-- untuk dipulangkan via Bandara Ngurah Rai, Bali.

Kehadiran para deportis semacam itu memang masuk ke dalam cakupan kerja Satgas CTOC. ''Agar WNI yang dideportasi tidak bermasalah di Indonesia, perlu dibentuk penangkal organisasi kriminal,'' kata Petrus Reinhard Golose, saat mengumumkan kehadiran Satgas CTOC. Ia juga bilang bahwa yang namanya transnational organizer crime itu mencakup juga terorisme. Sedangkan sosok seperti Abdul Zakir ia sebut sebagai persoalan foreign terorist fighter (FTF), yang sekarang juga jadi perhatian pemerintah. Tentang hal terakhir ini, 29 Juli 2017, Kemenko Polhukam menggelar ''Sub Regional Meeting on Foreign Terrorist Fighters (FTF) and Cross Border Terrorism'' di Hotel Four Points, Manado, yang diikuti delegasi dari Indonesia dan negara tetangga: Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Australia, dan Selandia Baru.

Sebulan berjalan, cakupan kerja Satgas CTOC bertambah luas. Hal ini diungkap Wakapolda Bali Brigjen Pol I Gede Alit Widana saat menjadi narasumber Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Lemhanas dan Pemprov Bali di Gedung Wiswa Sabha, Kantor Gubernur Bali, 14 Maret 2017. Ia bilang, Satgas CTOC berfokus pada upaya ''mengungkap kasus narkotika, terorisme, dan kejahatan jalanan''. Tapi, Satgas CTOC juga berkomitmen melakukan penangkapan jika ada instansi atau ormas yang melakukan pungutan liar. ''Kami akan tindak tegas dan tidak ada ampun jika ada ormas yang melakukan pungli,'' tegas Pak Brigjen. Tentang personil satgas, ia bilang personilnya adalah putra daerah yang sudah dilatih fisik dan kemampuannya dalam hal menggunakan teknologi. Pak Kapolda sendiri, saat menerima kunjungan Royal Canadian Mounted Police, 13 April 2017, menegaskan kalau Satgas CTOC akan berfokus pada terorisme, kejahatan narkotika, dan cyber crime. Hal serupa juga sudah diutarakannya saat menerima tamu dari Australian Federal Police.

Maka, sejak Maret 2017, Satgas CTOC pun mulai menunjukan aksinya. Pada 12 Maret, bersama Unit Cyber Crime Krimsus Polda Bali, satgas menggerebek markas judi online di Denpasar Selatan. Janji menyikat pelaku pungli juga dibuktikan lewat operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Gianyar dan Kabid Pelayanan Perijinan dan Non Perijinan, 16 Juni 2017. Sebulan kemudian, 16 Juli, satgas menggerebek dan menyegel Kafe Bibir di Denpasar karena jadi tempat peredaran narkoba. Pada 28 Juli, di Pelabuhan Gilimanuk, satgas menangkap pria yang membawa sabu-sabu dari Surabaya. Keesokan harinya, 29 Juli, bekerjasama dengan Kepolisian China, menggerebek rumah di Perumahan Puri Bendesa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, yang jadi markas sindikat kejahatan siber, dan mengamankan 17 warganegara China dan 10 warganegara Taiwan. Dan yang terbaru, 8 Agustus 2017, bersama Polres Gianyar, Satgas CTOC membekuk seorang pria spesialis menjambret kalung ibu-ibu.

Jambret juga ditangani Satgas CTOC? Sekilas, rasanya terlalu berlebihan. Tapi, seperti disebut Wakapolda Bali saat FGD Lemhanas , 'kejahatan jalanan' memang juga jadi fokus Satgas CTOC. Tapi lagi, mungkin Pak Kapolda sadar kalau hal ini tak cocok buat Satgas CTOC. Karenanya, 24 Juli 2017, Kapolda Bali Petrus Reinhard Golose mengumumkan pembentukan sebuah satgas baru lagi: Sabata alias Satuan Bhayangkara Anti Bandit-Street Crime-Anarkhis. Personil satgas ini, 20 orang, diambil dari Direktorat Sabhara Polda Bali. Mereka saat itu sedang digembleng selama 12 hari, 17-29 Juli, di Lapangan Tembak Tohpati, dengan instruktur dari Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Persoalan street crime juga mengemuka saat Wakil Dubes Inggris Juliet Maric, dengan didampingi Wakil Konsul Konsulat Inggris John Makin, bertamu ke kantor Petrus Reinhard Golose, 4 Agustus lalu. Juliet Maric menyampaikan niatan memperluas konsulat Inggris dan menambah pegawai, guna mengantisipasi kian banyaknya wisatawan asal Inggris. Sementara John Makin bicara soal makin banyaknya wisatawan yang melaporkan street crime berupa penjambretan tas berisi paspor dan dompet. Menanggapi hal itu, Kapolda Bali tak cerita soal kehadiran Sabata. Ia masih lebih suka bicara soal Satgas CTOC yang beranggotakan 88 polisi pilihan, yang kemampuan profiling dan analisisnya sudah setara dengan anggota Densus 88.

Sabata masih belum terdengar kiprahnya. Adakah satgas lain lagi yang akan dibikin Kapolda Bali Petrus Reinhard Golose? Mungkin ada. 26 Juli lalu, saat menerima kunjungan Kakanwil Bea Cukai Bali, NTB dan NTT Syarif Hidayat, ia bicara soal mafia narkoba yang memanfaatkan Bandara Ngurah Rai. Ia pun lantas mengusulkan agar Polda Bali, Bea Cukai, dan Imigrasi bisa bekerjasama dengan membentuk Airport Interdiction Task Force.

Lantas, akankah Satgas CTOC dikerahkan untuk menyelidiki kasus perampasan AK-101? Entahlah. Yang jelas, Kapolda Bali sudah bilang, ''Tidak ada indikasi teroris.'' Dan kabar terakhir, saat kemarin, 10 Agustus, berkunjung ke Markas Kodam IX/Udayanaia, ia bilang kalau motif tindak kriminal terhadap anggota Brimob Brigadir I Bagus Suda Suwarna itu hanya pencurian dengan kekerasan. Plus ia mengoreksi kabar soal senjata yang raib. Yang benar, katanya, senapan SS1. Bukan AK-101.
Kepolisian Daerah Bali
Jl. WR Supratman No 7
Desa Sumerta Kauh
Kecamatan Denpasar Timur
Kota Denpasar
Bali

Tel: 0361-234045

Website: www.bali.polri.go.id